Donate Now

Manuwani Indonesia foundation

Gerakan Perempuan Indonesia

Gerakan Perempuan Indonesia

Berbicara Gerakan artinya membicarakan kesadaran adanya relasi yang timpang di dalam masyarakat. Kesadaran akan adanya ketersinggungan bentuk kuasa atas tubuh, persona, dan kelompok. Kepemimpinan perempuan di Indonesia dapat dengan mudah kita cari jejaknya dalam buku-buku sejarah. Di masa pendudukan Belanda, perempuan-perempuan tersebut berdiri di garis depan menjadi pemimpin perang. Sebut saja Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan Cut Meutia.

Selain itu perjuangan yang tidak melulu mengangkat senjata juga dilakukan oleh R.A Kartini. Dia dengan gigih melawan perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Surat-surat panjangnya kepada sang sahabat di Belanda di masa kini masih dibaca oleh banyak orang dalam rangka membaca Indonesia di masa lalu. Buku yang ditulisnya, “Habis Gelap Terbitlah Terang” membuatnya dikenal sebagai sosok perempuan yang memperjuangkan emansipasi Wanita.

Kebangkitan perempuan di masa-masa itu boleh dibilang menjadi terekam sejak tahun 1928 dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan 1 pada bulan Desember. Waktu itu di Yogyakarta, perempuan-perempuan berdiskusi dan bergerak secara terorganisir demi memperjuangkan hak-hak mereka terutama di bidang pendidikan dan pernikahan. Bahkan, kongres tersebut membuat beberapa tokoh feminis Eropa merasa tersinggung sebab forum tersebut hanya diperuntukkan bagi pribumi. Ini merupakan bentuk pembulatan identitas yang membedakan mereka dengan perempuan-perempuan lain.

Pada tahun-tahun berikutnya, gerakan perempuan semakin marak dan tumbuh subur di Indonesia. Di akhir tahun 1945, tepatnya pada tanggal 17 Desember, lahirlah Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI). Selama perang masih berlangsung, PERWARI merupakan salah satu bagian terpenting, mereka mengurus dapur umum untuk para pejuang dan sekaligus membantu PMI. Peran mereka banyak dibutuhkan di garis depan peperangan, setelah kemudian beralih ke bidang pendidikan begitu perang mulai berakhir.

Membicarakan gerakan perempuan di Indonesia, tentu saja mustahil jika tidak membicarakan GERWANI, Gerakan Wanita Indonesia yang aktif sekitar tahun 1950 -1960. Gerakan perempuan satu ini dianggap satu-satunya Gerakan paling progresif di Indonesia bahkan mungkin Asia. Gerwani, merupakan Gerakan independent yang kerja-kerja gerakannya berfokus pada sistem hukum dan peradilan.

Gerwanilah yang mula-mula berani membicarakan isu-isu perkawinan, hak-hak buruh dan semangat nasionalisme. Gerwani membangun relasi dengan personal dan kelompok dukungan, khususnya pada perempuan-perempuan yang telah dilanggar haknya dan ditinggalkan suami mereka. Peneliti-peneliti dari luar Indonesia, di masa kini, banyak yang kemudian melakukan riset terhadap Gerakan perempuan yang satu ini. Mengingat Gerakan ini selain dianggap paling maju, juga oleh beberapa orang dianggap memiliki afiliasi dengan partai yang sampai hari ini masih menimbulkan perdebatan panas dan panjang dalam forum-forum diskusi sosial politik di Indonesia, Partai Komunis Indonesia.

Di masa Orde Baru, Gerakan-gerakan perempuan dianggap mandul atau bahkan mati. Hal ini diperparah dengan munculnya organisasi-organisasi bentukan pemerintah seperti PKK dan atau Dharma Wanita. Organisasi-organisasi ini dianggap memerankan tugas penting mereka dalam “penundukkan” perempuan. Bahwa perempuan tugasnya mendukung suami, membangun keluarga dan tidak boleh melawan suami sebagai kepala keluarga. Anggapan-anggapan ini tentu saja masih memerlukan penelitian yang mendalam yang sangat terbuka untuk dikaji dan didiskusikan kembali.

-Manuwani-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *